Inilah Mereka, Para Pelatih yang Suka Menghamburkan Dana Besar

Inilah Mereka, Para Pelatih yang Suka Menghamburkan Dana Besar

Inilah Mereka, Para Pelatih yang Suka Menghamburkan Dana Besar – Sepakbola kali ini sudah selaku bisnis yang amat menguntungkan sepanjang dua dekade belakangan. Pelatih yang dibekalkan dana transfer belum terbatas tentu saja mampu memperoleh pemain cemerlang tuk memenangkan trofi. Semenjak tahun 2000, tak sedikit pelatih yang berkesempatan meraih kesuksesan secara konsisten lalu mengemas banyak trofi. Akan tetapi, hal itu pun tak terlepas dari tunjangan finansial yang diberi pihak klub. Dibawah ini ada para pelatih yang telah menghamburkan dana besar tuk membeli pemain semenjak 2000 seperti dikutip Sportskeeda.

Claudio Ranieri: Meski Ranieri menjadi pelatih sepanjang lebih dari 3 dekade, dirinya tak pernah memenangi gelar liga utama hingga menjuarai Premier League bersama Leicester City di tahun 2015/16. Yang lalu ia sempat meraih trofi di liga di kasta bawah dan memenangi Copa del Rey bersama-sama Valencia tahun 1999. Ranieri pernah menukangi Chelsea hingga kedatangan Roman Abramovich lalu juga menangani sejumlah klub Serie A jelang diangkat selaku pelatih Monaco tuk mendapat promosi menuju Ligue 1. Ranieri pun berjasa memboyong James Rodriguez, Falcao serta Joao Moutinho ke Monaco. Walaupun begitu, Ranieri pasti tercatat didalam sejarah sepakbola Inggris sebab meraih prestasi besar dengan Leicester setelah memenangi gelar liga dengan kemungkinan 5000:1 dan klub belum lama selamat daripada ancaman degradasi di musim sebelum-sebelumnya.

Arsene Wenger: Ketika berkarir di Jepang dengan Nagoya Grampus Eight, Wenger pulang ke Eropa dari joint Arsenal. Dan pria berkebangsaan Prancis itu rampung memberikan prestasi disana. Wenger mengundang talenta terbaik Prancis semisal Patrick Vieira, Thierry Henry, dan Roberto Pires hingga merubah wajah Premier League. The Gunners memetik puncaknya dengan Wenger ketika meraih musim invincibles secara memenangkan liga tiada kekalahan 2003/04. Akan tetapi, pindah ke stadion anyar membuat finansial Arsenal terganggu lalu Wenger terpaksa merubah filosofinya secara mempromosikan pemain muda berbakat lalu menjual pemain terbaiknya. Eksperimen itu terlihat amat bagus namun masih belum cukup guna menjuarai gelar Premier League. Sekarang nasib Wenger di klub lagi kurang jelas karena kontraknya bakal habis di akhir musim tetapi sebagian besar fans tak menginginkan si pelatih menetap di klub.

Joseph Guardiola: Saat Barcelona cari pelatih baru tuk menyingkirkan Real Madrid, mereka menjumpai sosok yang jitu di team Barcelona B. Josep Guardiola sukses mempermalukan Mourinho lalu mampu memetik treble di musim pertamanya. Mereka kemudian berhasil mendapatkan sextuple lalu sebagai satu-satunya klub memetik prestasi itu. Filosofi tiki-taka nya pun menginspirasi Spanyol didalam meraih Piala Dunia serta Euro sebab mayoritas pemain inti Barcelona mengisi skuad utama Spanyol. Tim Catalan sanggup memenangkan 3 gelar liga serta 2 gelar Liga Champions sepanjang dilatih Guardiola. Guardiola lalu move ke Bayern Munchen yang memegang status peraih treble. Tapi, Guardiola tak berhasil mengemas trofi Eropa disana sebab hanya mampu menyabet gelar Bundesliga serta DFB-Pokal.

Setelah mengakhiri kontraknya di Allianz Arena, Guardiola hengkang ke Manchester City tuk mencari challenge baru dan terbilang kesulitan beradaptasi pada sepakbola Inggris walau sudah belanja besar di musim panas. Sekarang Guardiola tuk pertama kalinya akan menyudahi musim kepelatihannya tanpa satu gelar dengan tim yang dibimbingnya.

Manuel Pellegrini: Manuel Pellegrini telah menukangi klub di 3 benua yang berbeda-beda tapi kiprahnya yang sangat terkenal terwujud di La Liga dan Premier. Saat Pellegrini ditunjuk menjadi pelatih Real Madrid thaun 2009, Florentino Perez belanja besar dengan memboyong Kaka, Cristiano Ronaldo lalu Xabi Alonso tuk memenangkan gelar. Madrid bisa mengantongi 96 poin-poin paling baik mereka di La Liga – tapi tamat di belakang Barcelona pada 99 poin. Jelas saja, hal ini menjadikan Pellegrini ditendang dan pria berkebangsaan Chile itu mengkritik peraturan transfer Madrid sebab membeli pemain bintang namun tak sesuai terhadap posisi yang dicari. Pellegrini lalu mengurus Malaga dan sukses membawa klub tembus Liga Champions. Tetapi peraturan Financial Fair Play menyaksikan klub La Liga itu tidak boleh mengikuti perlombaan Eropa. Manchester City sanggup berjudi bersama Pellegrini dan pelatih membayarnya pada gelar Premier League 2013/14. Setelah tak mampu memberi gelar di musim selanjutnya, Pellegrini dipecat walau sudah membeli pemain mahal semacam Kevin De Bruyne & Raheem Sterling.

Leave a Reply

Your email address will not be published.